PILAR BEKASI.COM (Bekasi Selatan) – Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, memperingatkan agar usaha pencucian mobil dan kendaraan roda dua yang kian marak diwilayah Kota Bekasi untuk membuat Greasetrap dan biofilter untuk mengelola pembuangan air limbahnya.
Kasie Kajian Dampak Lingkungan, Heni mengatakan walau pun sabun dan sampho yang digunakan ramah lingkungan akan tetapi harus tetap ada pengelolaan limbah air pencucian mobil dan kendaraan roda dua tersebut,karena air dari cucian mobil itu tidak hanya busa sabun saja akan tetapi bisa saja tercapur bekas mencuci oli yang menempel dikendaraan akan menimbulkan lemak.
Menurut dia,sedianya setiap kegiatan usaha yang menghasilkan limbah harus memiliki greasetrap jadi air cucian mobil mengalir dulu ke greasetrap lalu baru ke biofilter,baru mengalir ke saluran, jadi limbah yang dihasilkan,sebelum dibuang telah bersih dan memenuhi baku mutu yang ditentukan,tutur Heni kepada pilarbekasi.com,Kamis (18/5/2017).
“Jangan sampai usaha tersebut justru mencemari lingkungan,sedangkan hasil dari usaha itu hanya diambil sendiri oleh pemilik,”katanya.
Heni pun menjelaskan,pada aktivitas pencucian kendaraan bermotor, setidaknya ada dua jenis limbah yang dihasilkan yakni lumpur buangan dan lemak dari minyak yang menempel pada kendaraan di samping limbah air sabun.
Melihat kenyataan tersebut perlu dilakukan upaya dan kepedulian bersama,agar dampak yang ditimbulkan bisa ditekan dan tidak menunggu hingga muncul dampak penggiring atau penyerta dari persoalan itu.
“Yang sekarang dirasakan saja, pendangkalan saluran di kawasan lokasi pencucian kendaraan tersebut,kerap terjadi.Itu akibat limbah lumpur dan pasir yang dibuang ke saluran,” katanya.
Dikatakannya,kendati saat ini, pencemaran yang ditimbulkan belum terlalu berdampak besar terhadap masyarakat sekitar,namun bila dibiarkan bisa saja mengancam dan mencemari air saluran yang ada. “Semakin hari, usaha semacam ini terus bertambah hingga ke kawasan permukiman,” ungkapnya.(Sapta)
