PILAR BEKASI.COM (SOLO) – Kota Surakarta segera memiliki destinasi wisata edukasi berskala internasional melalui kehadiran Tahir Solo Museum, sebuah museum yang mengangkat perjalanan peradaban manusia dari masa lampau hingga proyeksi masa depan. Museum yang dihibahkan oleh Founder Tahir Foundation, Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, kepada Pemerintah Kota Surakarta itu diperkenalkan dalam agenda soft launching yang dihadiri jajaran pemerintah pusat, Pemerintah Kota Solo, serta perwakilan dari Tiongkok. Kehadiran museum ini diharapkan menjadi pusat pembelajaran sains, sejarah, dan budaya yang dapat dinikmati masyarakat Indonesia maupun wisatawan mancanegara.
Menurut Dato’ Sri Tahir, museum tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan kepada kampung halaman ibundanya sekaligus kontribusi nyata bagi dunia pendidikan. Ia menjelaskan bahwa konsep museum dirancang untuk menyajikan sejarah peradaban manusia dengan pendekatan teknologi modern sehingga mudah dipahami oleh generasi muda. “Museum ini merupakan sarana edukasi sains dan budaya bagi generasi muda yang disajikan secara mutakhir. Ini adalah wujud balas budi dan cinta kasih kepada tanah kelahiran ibu saya di Solo,” ujar Tahir. Ia menambahkan, koleksi museum akan terus diperbarui agar pengunjung memperoleh pengalaman berbeda setiap kali datang, termasuk menghadirkan fosil dinosaurus asli yang dipinjam dari Museum Dinosaurus Zigong, Tiongkok.
Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto menyambut positif hibah tersebut dan menilai keberadaan Tahir Solo Museum akan memperkuat posisi Solo sebagai kota pendidikan sekaligus destinasi wisata berbasis ilmu pengetahuan. Pemerintah Kota Surakarta, kata Respati, juga tengah menyiapkan regulasi pendukung agar museum dapat beroperasi secara optimal. “Ini merupakan berkah bagi warga Solo. Museum ini menjadi awal dari kontribusi luar biasa Pak Tahir untuk masyarakat dan akan menjadi pusat pendidikan yang baru,” kata Respati. Selain menjadi objek wisata, museum diharapkan mampu memperluas akses masyarakat terhadap pembelajaran sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.
Apresiasi juga datang dari Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Dr. Agus Mulyana, yang menyebut Tahir Solo Museum sebagai salah satu museum terbesar di Indonesia bahkan Asia. Menurutnya, museum memiliki peran strategis dalam membangun memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat identitas budaya nasional. “Semoga museum ini membangun memori kolektif Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa di Indonesia. Solo memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan nasional dan museum ini akan memperkuat peran tersebut,” ujarnya. Kementerian Kebudayaan berharap museum berkembang tidak hanya sebagai ruang pamer, tetapi juga menjadi pusat penelitian, pelestarian sejarah, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Kolaborasi internasional menjadi salah satu kekuatan utama Tahir Solo Museum. Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, Wang Siping, menyampaikan bahwa kerja sama ini mempererat hubungan budaya Indonesia dan Tiongkok yang telah terjalin selama berabad-abad, termasuk melalui inisiatif Belt and Road. Sementara itu, Direktur Museum Dinosaurus Zigong, Zeng Xiaoyun, mengungkapkan kebanggaannya dapat menghadirkan koleksi fosil Jurassic dari Zigong ke Solo. Ia menjelaskan bahwa Zigong dikenal sebagai salah satu kawasan fosil dinosaurus terbesar di dunia dengan lebih dari 180 situs fosil dan museum yang pada 2024 masuk dalam daftar 100 World Geological Heritage Sites. “Walau dipisahkan laut, hubungan Indonesia dan Tiongkok telah terjalin dengan baik. Kami siap terus berbagi pengetahuan dan kerja sama di bidang museum serta kebudayaan,” kata Zeng. Dengan kolaborasi tersebut, Tahir Solo Museum diharapkan menjadi ikon baru wisata edukasi Indonesia yang menghubungkan sejarah, sains, dan kebudayaan dalam satu ruang pembelajaran modern. (Rhizal Anggoro)
