PILAR BEKASI. COM (JAKARTA) – Upaya perluasan akses masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan inovatif terus diperkuat sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan nasional. Proses ini didukung oleh peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai regulator kunci, melalui evaluasi yang berbasis ilmiah dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor kesehatan.
Sebagai salah satu perusahaan biofarmasi global, AstraZeneca Indonesia juga turut berkontribusi mendukung ketersediaan terapi inovatif yang dibutuhkan untuk menangani berbagai penyakit serius dan kronis. AstraZeneca menyampaikan apresiasi kepada BPOM atas perannya sebagai regulator kunci yang secara konsisten mendukung perluasan dan percepatan akses terhadap obat-obatan inovatif bagi pasien di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, percepatan proses registrasi yang dilakukan BPOM melalui beragam produk inovatif AstraZeneca Indonesia telah memungkinkan tersedianya akses terhadap berbagai terapi inovatif, khususnya untuk indikasi yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Terapi – terapi tersebut mencakup berbagai area penyakit, termasuk penyakit langka, kondisi autoimun, penyakit jantung, pengobatan diabetes tipe 2 dan penyakit metabolik kronis, serta terapi kanker, termasuk kanker paru untuk pasien dengan penyakit stadium awal maupun lanjut.
Salah satu contoh terapi inovatif yaitu indikasi terapi tambahan dalam pengobatan lupus eritematosus sistemik (systemic lupus erythematosus (SLE)), khususnya bagi pasien yang penyakitnya belum terkontrol secara optimal dengan terapi standar. Terapi ini diperuntukkan bagi pasien lupus dewasa dengan autoantibodi positif, dan tidak ditujukan untuk pasien dengan lupus nefritis aktif berat atau lupus sistem saraf pusat aktif berat, sesuai dengan penilaian keamanan dan efektivitas yang tersedia.
AstraZeneca akan terus berkolaborasi dengan lintas sektor, termasuk regulator, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan terkait untuk mendukung peningkatan pemahaman penyakit, penguatan sistem layanan kesehatan, serta peningkatan kualitas hidup di Indonesia. (Fahmi Soe)
